SANGATTA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menunjukkan perkembangan positif. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim mencatat jumlah titik panas atau hotspot mulai mengalami penurunan seiring masifnya penanganan yang dilakukan di lapangan.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperkuat. Berdasarkan data per 22 Agustus 2026, luas lahan yang terdampak karhutla di Kutim telah mencapai 68,3 hektare.
Hal tersebut disampaikan Kepala BPBD Kutim, Sulastin, dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla yang digelar di Ruang Rapat Utama BPBD Kutim, Senin (24/8/2026) pagi.
Sulastin menjelaskan, berdasarkan pemantauan terbaru, rata-rata kemunculan titik api harian di Kutim mulai menurun. Sebelumnya, jumlah titik api berada di kisaran empat hingga lima titik per hari. Kini, angka tersebut turun menjadi sekitar dua titik per hari.
Namun, kondisi itu bukan berarti ancaman karhutla telah sepenuhnya berakhir. BPBD masih mewaspadai sisa-sisa pembakaran yang berpotensi kembali memicu kebakaran.
Sulastin mencontohkan adanya kejadian di lapangan ketika sebuah titik api ditinggalkan oleh pemiliknya. Bara yang belum benar-benar padam kemudian kembali merambat dan membuat tim gabungan harus turun melakukan pemadaman ulang, meski sebelumnya personel telah meninggalkan lokasi.
“Masih ada bara-bara yang harus kita waspadai. Jangan sampai setelah ditinggalkan, api kembali merambat dan akhirnya tim harus turun lagi,” ujar Sulastin.
Sementara itu, berdasarkan rekapitulasi sementara, total lahan terdampak karhutla di Kutim telah mencapai 68,3 hektare.
BPBD memastikan angka tersebut masih dalam proses pendataan dan validasi bersama pemerintah kecamatan. Pasalnya, sejumlah laporan dari beberapa kecamatan masih dalam tahap verifikasi sebelum seluruh data dihimpun secara keseluruhan.
Untuk mempercepat respons apabila kembali ditemukan titik api, BPBD Kutim telah menyiagakan posko utama penanggulangan karhutla secara terpusat di Kantor BPBD Kutim.
Posko pendukung di tingkat kecamatan juga terus dioptimalkan. Salah satunya berada di Kantor Camat Sangatta Selatan yang telah disiapkan untuk memperkuat koordinasi penanganan di wilayah.
BPBD juga tengah menginventarisasi kesiapan peralatan sekaligus menginstruksikan seluruh pemerintah kecamatan di Kutim agar segera membentuk posko operasional siaga karhutla di wilayah masing-masing.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperpendek jalur koordinasi sekaligus mempercepat respons apabila terjadi kebakaran.
Penanganan di lapangan juga mendapat dukungan penuh dari jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kutim. Dandim Letkol Czi Zainal Abidin dan Kapolres AKBP Aryansyah disebut aktif mengawal tim gabungan hingga ke sejumlah titik yang dinilai krusial.
Di sisi lain, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam upaya pengendalian karhutla. Warga dinilai semakin sigap melaporkan apabila menemukan titik api di wilayahnya.
Pemkab Kutim pun terus mendorong pemerintah kecamatan, perusahaan swasta, serta seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam pencegahan dan penanganan karhutla.
Dengan tren penurunan titik panas tersebut, pemerintah berharap kondisi wilayah Kutim tetap aman dan terkendali, sekaligus mencegah munculnya kebakaran baru yang dapat memperluas dampak karhutla.