Kabut Asap Selimuti Sangatta Dinkes Temukan PM10 Capai 629

diadmin
6 Views
3 Min Read

Sangatta – Langit Sangatta, Kutai Timur, berubah kelabu pada Rabu (16/9/2026). Kondisi tersebut terjadi sejak pagi hingga sore dan membuat matahari tampak samar di balik kabut yang menyelimuti sejumlah kawasan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur menduga kondisi itu berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terbawa dari wilayah lain. Dugaan tersebut muncul berdasarkan hasil briefing dan pemantauan yang dilakukan petugas di lapangan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, mengatakan hingga sore pihaknya belum menerima laporan karhutla dari posko di Sangatta Utara maupun Sangatta Selatan. “Dari pagi sampai saat ini tidak ada laporan karhutla sama sekali,” ujarnya.
Menurut Naim, kondisi langit yang berkabut diduga dipengaruhi asap dari daerah lain yang masih mengalami karhutla. “Dari hasil briefing tadi, kita dapat kiriman dari daerah yang masih terdampak oleh karhutla,” katanya.
Meski laporan dari kedua posko sebelumnya nihil, BPBD tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Petugas kemudian menerima informasi mengenai adanya kebakaran lahan di kawasan Sangatta Selatan. Personel pun telah disiapkan untuk melakukan penanganan apabila titik api kembali ditemukan.
“Teman-teman BPBD sudah kita siapkan di selatan maupun utara. Kalau itu masih di selatan, berarti tim BPBD dan teman-teman yang lain itu yang menangani,” jelas Naim.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara turut menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kutim. Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, menyampaikan hasil pemantauan di sejumlah fasilitas kesehatan menunjukkan konsentrasi partikulat yang cukup tinggi.
Pengukuran di depan Puskesmas Batu Ampar pada pukul 16.42 Wita mencatat PM2.5 sebesar 145 dan PM10 mencapai 419. Sementara pemantauan di wilayah Puskesmas Sepaso pada pukul 16.51 Wita menunjukkan PM2.5 berada di angka 221 dan PM10 mencapai 629.
Tingginya partikulat tersebut membuat Dinkes mengingatkan masyarakat agar membatasi aktivitas di luar ruangan. Warga yang harus bepergian juga dianjurkan menggunakan masker, terutama jenis N95, KN95, atau KF94 apabila tersedia.
Perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak sekolah. Dinkes Kutim meminta agar opsi pembelajaran dari rumah dapat dipertimbangkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, menyusul kondisi udara yang dinilai tidak sehat hingga sangat tidak sehat di sejumlah lokasi.
“Mohon dapat dipertimbangkan Bapak Mulyono, Kadisdikbud, agar anak sekolah dapat belajar dari rumah dulu,” kata Yuwana.
Meski demikian, usulan tersebut masih sebatas permintaan untuk dipertimbangkan dan belum menjadi keputusan resmi terkait pelaksanaan pembelajaran dari rumah. Pemantauan kualitas udara dan kondisi karhutla pun masih terus dilakukan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa asap karhutla dapat berdampak hingga wilayah yang tidak menjadi lokasi utama kebakaran. Pergerakan asap bersama angin membuat kualitas udara di Sangatta ikut terpengaruh, sehingga masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *