Bantuan Polda Kaltim Perkuat Petani Eks Tambang di Kutim

diadmin
9 Views
6 Min Read
Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro serahkan bantuan sosial dan alsintan ke Poktan Bakutor (Foto Bagus Pro Kutim)

SANGATTA – Hamparan tanah yang dahulu bergemuruh oleh deru alat berat kini menumbuhkan harapan baru. Di kawasan eks tambang Pit J PT Kaltim Prima Coal (KPC), Kutai Timur (Kutim), bentangan lahan yang sebelumnya identik dengan aktivitas pengerukan mineral perlahan menjelma menjadi kawasan pertanian jagung yang produktif. Perubahan itu tidak hanya menghadirkan lanskap baru, tetapi juga menegaskan bahwa lahan pascatambang masih memiliki daur hidup berikutnya untuk menopang ketahanan pangan.

Transformasi tersebut kembali memperoleh suntikan semangat setelah Polda Kalimantan Timur (Kaltim) menyerahkan bantuan sosial dan alat mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani pengelola kawasan eks tambang tersebut, Sabtu (30/5/2026). Bantuan itu diharapkan mempercepat pengolahan lahan sekaligus memperkuat produktivitas pertanian yang tengah berkembang di kawasan reklamasi. Empat kelompok tani menjadi penerima manfaat program tersebut, yakni Poktan Bakutor, Poktan Karya Etam Bersama 3, Poktan Prima Tani (Tani Prima), dan Poktan Prima Mandiri. Mereka selama ini menjadi pelaku utama yang menghidupkan kembali kawasan pascatambang melalui budidaya jagung.

Kehadiran alsintan dan bantuan sosial dinilai menjadi penopang penting bagi para petani dalam mengoptimalkan lahan yang telah direhabilitasi. Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, dukungan sarana produksi menjadi faktor krusial untuk mempercepat pengembangan kawasan pangan baru.
Program tersebut juga mendapat pengawalan dari Pemkab Kutim melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP). Selain memastikan kesiapan lahan dan petani, dinas turut mendampingi pemanfaatan bantuan agar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan hasil produksi.

Mewakili Kepala DTPHP Kutim, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian, Bohari, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mengawal pemanfaatan bantuan tersebut secara berkelanjutan.

“Pihak dinas, khususnya Bidang Prasarana DTPHP, memberikan dukungan penuh terhadap program ini dan berkomitmen untuk terus mengawal pemanfaatan sarana pertanian pasca-penyerahan oleh Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro. Kehadiran alsintan berupa cultivator dan alat tanam dorong (planter manual) ini sangat kami dukung demi memastikan transformasi eks lahan tambang menjadi kawasan produktif yang efektif dan berkelanjutan,” tegas Bohari.

Bantuan yang diserahkan meliputi 50 paket bantuan sosial berupa sembako bagi petani serta sejumlah alsintan untuk mendukung program ketahanan pangan desa. Peralatan tersebut diproyeksikan mempercepat proses pengolahan lahan pada fase pengembangan berikutnya sehingga siklus tanam dapat berlangsung lebih efisien.

Bagi para petani, bantuan tersebut menghadirkan arti yang lebih luas daripada nilai materialnya. Di balik setiap mesin dan paket bantuan yang diterima, tersimpan pengakuan atas ikhtiar panjang mereka mengubah lahan yang pernah dianggap selesai dimanfaatkan menjadi ruang produksi pangan baru.

Ketua Poktan Bakutor, Saul Lebang, mengaku dukungan tersebut semakin menguatkan optimisme petani dalam menghadapi musim tanam berikutnya.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolda Kaltim. Bantuan paket sembako dan Alsintan ini betul-betul nyata membantu meningkatkan semangat kerja kami. Dengan dukungan prasarana yang ada serta pengawalan dari Dinas Pertanian, kami yang pada panen tahap pertama meraih 19 ton, kini sangat optimis hasil panen jagung pipil pada tahap kedua nanti bisa melonjak hingga mencapai target 30 ton,” ungkap Saul Lebang.

Optimisme itu bertumpu pada capaian nyata. Panen tahap pertama telah menghasilkan 19 ton jagung pipil. Pada musim tanam berikutnya, para petani berharap mekanisasi yang semakin memadai mampu mempercepat proses pengolahan lahan, memperpendek waktu tanam, dan meningkatkan hasil panen secara signifikan.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Swarga Bara, Rudiana Jaya, menjelaskan bahwa seluruh alsintan yang diterima akan langsung digunakan untuk mengelola lahan siap tanam seluas 14,8 hektare dari total target pengembangan kawasan pertanian seluas 19,8 hektare.
Lahan tersebut dikelola secara gotong royong oleh petani dari Desa Swarga Bara dan Desa Singa Gembara. Semangat kebersamaan menjadi modal sosial yang tak kalah penting dibandingkan dukungan sarana produksi.

“Bantuan mekanisasi pertanian dari Kapolda Kaltim ini sangat tepat waktu dan langsung kami operasikan dengan dukungan teknis dari dinas. Minggu ini kami fokus melakukan pembersihan dan penyemprotan herbisida. Dengan adanya alat tanam dorong baru ini, metode tanam bersama secara bergiliran (koyok) antar-kelompok akan menjadi jauh lebih cepat demi mengejar target panen raya serentak pada September 2026 mendatang,” jelas Rudiana.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penanaman benih jagung secara simbolis. Namun, yang ditanam hari itu bukan hanya benih tanaman. Di atas tanah yang pernah menjadi pusat aktivitas pertambangan, tumbuh pula keyakinan bahwa pemulihan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Kolaborasi antara Polda Kaltim, Pemkab Kutim, perusahaan, dan kelompok tani menjadi gambaran bagaimana lahan pascatambang dapat memperoleh kemaslahatan baru. Kawasan yang dahulu menghasilkan sumber daya mineral kini mulai berkontribusi menghasilkan pangan.

Bagi masyarakat sekitar, manfaatnya terasa lebih dekat. Lahan yang kembali produktif membuka ruang kerja, memperkuat aktivitas pertanian desa, serta menghadirkan sumber penghidupan yang berkelanjutan. Jika target panen tahap kedua tercapai, keberhasilan itu bukan hanya menjadi capaian empat kelompok tani semata, melainkan penanda bahwa kawasan pascatambang dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung agenda swasembada pangan nasional.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *