SANGATTA – Harapan petani di SP2 Desa Margomulyo, Kecamatan Rantau Pulung, untuk memulai musim tanam harus terganggu akibat banjir yang merendam area persawahan mereka. Sedikitnya 18 hektare sawah yang baru ditanami padi hingga kini masih tergenang air setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut beberapa hari terakhir.
Genangan yang tak kunjung surut membuat para petani mulai khawatir tanaman padi yang baru ditanam mengalami kerusakan dan gagal tumbuh.
Camat Rantau Pulung, Vita Nurhasah, mengatakan pihak kecamatan telah meninjau langsung lokasi terdampak bersama aparat desa dan petugas penyuluh lapangan untuk melihat kondisi di lapangan.
“Yang terdampak saat ini berada di kawasan SP2 dengan luas kurang lebih 18 hektare sawah yang baru memasuki masa tanam,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, banjir mulai terjadi setelah intensitas hujan meningkat sejak akhir pekan lalu. Kondisi tersebut diperparah karena air tidak mengalir dengan lancar sehingga genangan bertahan lebih lama dibanding biasanya.
Menurut Vita, pada tahun-tahun sebelumnya air di area persawahan umumnya dapat surut dalam waktu singkat setelah hujan reda. Namun kali ini debit air masih bertahan hingga hampir sepekan.
“Hari ini air masih belum banyak berkurang. Biasanya dua hari sudah mulai surut, tetapi sekarang jauh lebih lama,” katanya.
Hasil pengecekan di lapangan menunjukkan adanya pendangkalan sungai yang menjadi saluran pembuangan air dari kawasan sawah. Selain itu, gorong-gorong pada jembatan penghubung Desa Margomulyo dan Desa Mektijaya juga mengalami kerusakan akibat longsor sehingga memperlambat arus air.
Kondisi tersebut membuat air tertahan di area persawahan dan sulit mengalir menuju sungai utama.
Pemerintah kecamatan bersama warga berharap adanya penanganan segera, terutama normalisasi sungai dan perbaikan infrastruktur drainase agar banjir tidak terus berulang setiap musim penghujan.
“Petani berharap ada langkah nyata untuk memperbaiki aliran sungai dan saluran air supaya sawah mereka tidak terus terdampak,” jelas Vita.
Selain normalisasi, warga juga mengusulkan peningkatan ukuran gorong-gorong di jembatan penghubung desa yang dinilai sudah tidak mampu menampung debit air besar saat hujan deras.
Meski tidak sampai merendam rumah warga, banjir ini tetap membawa dampak bagi sektor pertanian. Para petani diperkirakan mengalami kerugian dari biaya pembelian bibit hingga ongkos tanam yang sudah dikeluarkan di awal musim tanam.