Lom Plai Digelar, Pemkab Kutim Soroti Alih Fungsi Lahan dan Tantangan Swasembada Pangan

diadmin
6 Views
3 Min Read

MUARA WAHAU – Puncak perayaan adat Lom Plai suku Dayak Wehea kembali berlangsung meriah di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Rabu (22/4/2026). Ritual Embob Jengea yang menjadi inti perayaan tak hanya menghadirkan kekayaan budaya, tetapi juga membuka ruang refleksi terhadap kondisi pertanian dan arah pembangunan daerah.

Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, yang hadir mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman, menyoroti adanya ketimpangan antara makna filosofis Lom Plai sebagai ungkapan syukur panen padi dengan kondisi nyata di lapangan. Ia menyebut, keberadaan ladang padi kini semakin sulit ditemukan, seiring dominasi perkebunan kelapa sawit.

Menurutnya, pergeseran pilihan masyarakat dari tanaman pangan ke komoditas sawit menjadi tantangan serius dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan. Padahal, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian telah membuka peluang besar lewat program cetak sawah baru dan bantuan pompanisasi.

Pemkab Kutim sendiri telah mengusulkan ribuan hektare lahan untuk pengembangan sawah. Namun dalam perjalanannya, realisasi program tersebut menghadapi berbagai hambatan, mulai dari persoalan status lahan hingga minimnya minat masyarakat untuk beralih dari sawit ke padi.

Mahyunadi menegaskan, swasembada pangan di tingkat lokal hanya dapat tercapai jika ada kesamaan komitmen antara pemerintah dan masyarakat. Ia mendorong peran aktif kepala desa dan camat untuk meyakinkan warga agar kembali melirik sektor pertanian pangan.

Di sisi lain, ia mengapresiasi komitmen masyarakat adat dalam menjaga keaslian Lom Plai. Ritual-ritual utama tetap dipertahankan sesuai pakem, sebagaimana pesan para tokoh adat, demi menjaga nilai sakral tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Meski demikian, pemerintah daerah membuka ruang inovasi pada aspek pendukung, khususnya dalam pengembangan seni dan atraksi budaya, guna meningkatkan daya tarik wisata. Berbagai perlombaan tradisional seperti menyumpit, gasing, hingga balap dayung menjadi bagian dari kemeriahan acara.

Atraksi khas seperti Seksiang—perang menggunakan rumput gajah—serta pertunjukan di atas rakit di sungai, menjadi daya tarik tersendiri. Kemampuan warga menjaga keseimbangan di atas perahu kecil dinilai mencerminkan keterampilan hidup masyarakat yang autentik.

Sejak masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) pada 2023, Lom Plai semakin dikenal secara nasional. Namun, pengembangan potensi wisata di wilayah ini masih menghadapi kendala utama, yakni aksesibilitas.

Perjalanan darat menuju lokasi yang memakan waktu hingga 5–7 jam menjadi tantangan bagi wisatawan. Rencana pengembangan Bandara Uyang Lahai yang semula ditargetkan pada 2027 pun harus disesuaikan akibat kebijakan efisiensi anggaran daerah.

Meski demikian, pemerintah daerah memastikan komitmennya untuk terus mengupayakan peningkatan infrastruktur guna mendukung sektor pariwisata.

Terkait pembiayaan kegiatan, Mahyunadi juga menegaskan pentingnya transparansi dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, serta pihak terkait lainnya. Ia berharap tidak ada lagi anggapan bahwa pelestarian budaya hanya bergantung pada dukungan pihak swasta.

“Pariwisata, adat, dan ekonomi kreatif merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ini adalah identitas daerah yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

Melalui Lom Plai, Kutai Timur tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga dihadapkan pada tantangan besar untuk menyeimbangkan pelestarian budaya, penguatan pangan, dan pengembangan pariwisata secara berkelanjutan.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *