Kakao Fermentasi Kutim Tembus Pasar Bandung, Petani Karangan Kantongi Kontrak 2 Ton per Bulan

diadmin
190 Views
3 Min Read

SANGATTA – Komoditas kakao Kutai Timur mulai menunjukkan geliat yang menjanjikan. Setelah melalui proses pembinaan dan peningkatan kualitas, biji kakao fermentasi hasil petani Kecamatan Karangan kini berhasil menembus pasar luar Kalimantan dengan pengiriman perdana ke Bandung, Jawa Barat.

Momentum tersebut ditandai dengan peluncuran kerja sama pemasaran antara petani kakao Karangan dan PT Rasantara Cipta Pangan. Melalui kemitraan itu, petani berhasil mengamankan pasar tetap dengan kapasitas penyerapan mencapai 2 ton kakao fermentasi setiap bulan.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyebut keberhasilan tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi komoditas perkebunan Kutim di pasar nasional. Menurutnya, kakao masih memiliki prospek yang sangat besar untuk dikembangkan karena didukung karakter rasa yang khas dan berpotensi bersaing dengan daerah penghasil kakao lainnya.

“Kakao kita memiliki cita rasa yang baik. Tantangannya sekarang adalah menjaga kualitas dan kontinuitas produksi agar pasar yang sudah terbuka ini bisa terus berkembang,” ujar Ardiansyah saat launching pengiriman kakao fermentasi, Rabu (17/6/2026).

Ia menilai pengembangan kakao harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari optimalisasi lahan, peremajaan tanaman hingga penguatan pendampingan kepada petani. Langkah tersebut dinilai penting agar produktivitas kebun tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.

Menurut Ardiansyah, sektor perkebunan memiliki peran strategis sebagai salah satu penyangga ekonomi daerah. Karena itu, pemerintah terus mendorong lahirnya komoditas unggulan yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perkebunan Kutim Arief Nur Wahyuni mengungkapkan terbukanya pasar di Bandung merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, kelompok tani, akademisi, dan dunia usaha dalam mendorong peningkatan kualitas kakao lokal.

Ia menjelaskan, pengembangan kakao di Kutim tidak lagi sekadar mengejar peningkatan produksi, tetapi juga berorientasi pada kualitas melalui penerapan budidaya yang baik dan proses fermentasi sesuai standar industri.

“Nilai jual kakao fermentasi jauh lebih tinggi dibandingkan kakao nonfermentasi. Karena itu kami terus mendorong petani agar menerapkan standar pascapanen yang baik sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar,” jelasnya.

Saat ini, sejumlah program penguatan kapasitas petani, pendampingan teknis hingga sertifikasi terus dijalankan untuk meningkatkan daya saing kakao Kutim. Pemerintah berharap keberhasilan membuka pasar tetap di Bandung menjadi pintu masuk bagi perluasan pemasaran ke daerah lain.

Dengan adanya kepastian serapan sebanyak 2 ton per bulan, petani kakao di Karangan diharapkan semakin termotivasi meningkatkan produksi sekaligus menjaga kualitas hasil panen.

Ke depan, Dinas Perkebunan Kutim menargetkan kakao fermentasi asal Kutim tidak hanya memasok industri pengolahan di Bandung, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas dan memperkuat posisi daerah sebagai salah satu sentra kakao berkualitas di Kalimantan Timur.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *