Mulyono Minta Buku Sejarah Tonjolkan Wilayah Kutim

diadmin
3 Views
3 Min Read

SANGATTA – Penyusunan buku sejarah Kabupaten Kutai Timur diminta tidak berhenti pada narasi sejarah secara umum. Setiap peristiwa yang dibahas diharapkan memiliki keterkaitan jelas dengan wilayah Kutai Timur, termasuk lima kecamatan yang menjadi bagian awal pembentukan kabupaten.

Pesan tersebut disampaikan Mulyono saat membahas laporan pendahuluan Kajian Penulisan Sejarah Swakelola Tipe II Kabupaten Kutai Timur di Ruang Damar, Gedung Serba Guna Lantai 2, Bukit Pelangi, Selasa (22/9/2026).

Menurut Mulyono, sebuah kajian sejarah perlu memiliki “alamat” yang jelas. Penyebutan lokasi akan membantu pembaca memahami di mana sebuah peristiwa terjadi dan bagaimana kaitannya dengan perjalanan Kutai Timur.

Ia mengingatkan, Kutai Timur memiliki perjalanan administratif yang panjang. Kabupaten ini terbentuk setelah pemekaran wilayah Kutai, dengan lima kecamatan sebagai wilayah awal.

“Pada saat itu Kutai Timur ini hanya lima kecamatan. Muara Ancalong, Muara Bengkal, kemudian Muara Wahau, Sangatta, dan Sangkulirang,” kata Mulyono.

Lima kecamatan tersebut, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam memahami sejarah awal Kutai Timur sebelum wilayahnya berkembang melalui proses pemekaran hingga menjadi 18 kecamatan seperti saat ini.

Karena itu, Mulyono meminta kajian sejarah Islam maupun sejarah kebudayaan yang sedang disusun dapat menyentuh wilayah-wilayah tersebut.

“Nanti baik buku sejarah Islam atau sejarah kebudayaan itu harus menyentuh salah satu dari wilayah kelima itu tadi. Karena kita berbicara wilayah Kutai Timur,” ujarnya.

Ia mencontohkan, apabila sebuah jejak sejarah ditemukan di Sangkulirang atau Muara Ancalong, lokasi tersebut perlu disebut secara jelas dalam narasi. Dengan begitu, pembaca dapat melihat hubungan langsung antara sejarah yang ditulis dengan wilayah Kutai Timur.

“Tapi mungkin, pertama kali ditemukan di Sangkulirang misalnya, atau di Muara Ancalong. Itu kan kelihatan, oh itu memang wilayah Kutai Timur. Itu yang saya inginkan,” ucapnya.

Mulyono menyadari materi yang dipaparkan dalam seminar tersebut masih berupa laporan pendahuluan. Karena itu, masukan diberikan sebagai bagian dari proses penyempurnaan sebelum penelitian dan penulisan berkembang menjadi naskah sejarah yang lebih lengkap.

Ia berharap buku yang nantinya dihasilkan tidak hanya menyajikan sejarah Kutai dalam perspektif luas, tetapi juga mampu menunjukkan jejak sejarah yang berada di wilayah Kutai Timur. Dengan menyertakan lokasi, masyarakat, tradisi dan peristiwa lokal, sejarah diharapkan lebih dekat dengan masyarakat Kutim.

Lima kecamatan awal pembentukan Kutai Timur pun dapat menjadi salah satu pijakan penting untuk menelusuri perjalanan daerah, dari masa awal pembentukan hingga berkembang menjadi 18 kecamatan.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *