
SANGATTA – Upaya menekan angka stunting dan keluarga berisiko stunting (KRS) di Kutai Timur (Kutim) terus diperkuat melalui edukasi di tingkat masyarakat. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim menjadikan penyuluhan keluarga berencana (KB) sebagai salah satu strategi untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai perencanaan keluarga dan kesehatan keluarga.
Kabid Penyuluhan DPPKB Kutim Yunie mengatakan, penyuluh di lapangan tidak hanya bertugas memberikan informasi mengenai program KB. Mereka juga menjadi ujung tombak dalam memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus mendukung pengumpulan data yang dibutuhkan pemerintah.
“Tujuannya itu adalah bagaimana caranya menekan atau menurunkan stunting atau KRS,” kata Yunie.
Menurutnya, penyuluhan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak. Mulai dari fasilitas kesehatan, pemerintah kecamatan, Kantor Urusan Agama (KUA), hingga lingkungan sekolah. Pendekatan tersebut dilakukan agar edukasi mengenai perencanaan keluarga dapat diberikan sejak sebelum pasangan memasuki kehidupan berumah tangga.
“Biasanya sebelum pranikah itu kan diberikan pembekalan terkait itu. Terutama di sekolah-sekolah juga sudah diberikan pembekalan,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat juga mendapatkan konseling sebelum menentukan pilihan terkait program KB. Mereka yang berminat kemudian dapat diarahkan untuk memperoleh pelayanan di klinik maupun fasilitas kesehatan yang tersedia di kecamatan.
DPPKB juga memanfaatkan penyuluhan secara digital melalui platform Zoom, terutama untuk pembekalan dan peningkatan kapasitas tenaga penyuluh.
Meski demikian, keterbatasan jumlah penyuluh masih menjadi tantangan. DPPKB berharap penguatan tenaga penyuluh dapat terus dilakukan agar edukasi dan pelayanan program KB semakin menjangkau masyarakat hingga ke tingkat desa. (ADV/Kominfo/Kutim)