Wabup Kutim Minta PPM Tambang Perhatikan Dampak Tongkang Batu Bara ke Warga Pesisir

Redaksi
590 Views
2 Min Read

SANGATTA – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi meminta program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) perusahaan tambang turut memperhatikan masyarakat pesisir yang terdampak aktivitas pengangkutan batu bara. Pemberdayaan dinilai tidak boleh hanya menyasar wilayah penambangan, tetapi juga masyarakat yang merasakan dampak aktivitas operasional perusahaan.

Hal tersebut disampaikan Mahyunadi dalam konsultasi publik pembaruan Rencana Induk Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (RIPPM) PT Ganda Alam Makmur (GAM). Menurutnya, program perusahaan harus disusun berdasarkan kondisi, kebutuhan, serta potensi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Mahyunadi menyoroti kondisi masyarakat di Benua Baru Ilir, Benua Baru Ulu, dan Kelomian yang menurutnya turut terdampak jalur pelayaran tongkang batu bara. Aktivitas tersebut dinilai perlu menjadi perhatian dalam penyusunan program pemberdayaan, terutama terkait lingkungan dan keberlangsungan mata pencaharian warga.

“Berapa banyak batu bara itu tumpah, berapa banyak masyarakat kita yang harus nyisih dari tempatnya mancing karena jalurnya dilewati ponton,” ujar Mahyunadi.

Ia menegaskan, program PPM perlu diarahkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk melalui perlindungan lingkungan, penguatan kelembagaan, serta dukungan sosial dan budaya.

Menurut Mahyunadi, pembaruan RIPPM juga harus melibatkan pemerintah daerah, perusahaan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, kelompok perempuan, generasi muda, dan pelaku usaha. Pelibatan tersebut penting agar kebutuhan masyarakat dapat terakomodasi sejak tahap perencanaan hingga evaluasi.

“Karena ini subjek, maka harus dilibatkan, bukan hanya sekadar objek, mulai perencanaan hingga evaluasi ke depan,” tegasnya.

Melalui pembaruan RIPPM, Pemkab Kutim berharap program pemberdayaan perusahaan tambang semakin terarah, transparan, dan berkelanjutan. Dengan demikian, manfaat kegiatan pertambangan diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, termasuk warga pesisir yang berada di sekitar jalur operasional angkutan batu bara. (ADV/Kominfo/Kutim)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *