DPPKB Kutim Dorong Konsep Satu Desa Satu Penyuluh

Redaksi
10 Views
2 Min Read

SANGATTA – Upaya memperluas jangkauan edukasi dan pelayanan keluarga berencana (KB) di Kutai Timur (Kutim) masih menghadapi tantangan keterbatasan tenaga penyuluh. Kondisi geografis Kutim yang luas dengan jarak antardesa yang cukup jauh membuat kebutuhan tenaga penyuluh di tingkat desa semakin penting.

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim mendorong konsep satu desa satu penyuluh agar edukasi dan pendampingan program keluarga berencana dapat menjangkau masyarakat secara lebih merata.

Kabid Penyuluhan DPPKB Kutim, Yunie, mengatakan kebutuhan tersebut menjadi salah satu perhatian karena penyuluh merupakan ujung tombak pelaksanaan program di lapangan. Saat ini, distribusi tenaga penyuluh belum sepenuhnya ideal. Dalam sejumlah wilayah, satu penyuluh harus menangani beberapa desa sekaligus.

“Harapan kami, kalau bisa satu desa satu penyuluh. Kita ketahui bersama jarak antara desa satu dengan desa yang lain itu jauh,” ujar Yunie.

Kondisi tersebut membuat penyuluh harus bekerja ekstra untuk menjangkau masyarakat. Bahkan, terdapat penyuluh yang menangani lebih dari lima desa dalam satu wilayah kerja.

Menurut Yunie, keterbatasan tenaga menjadi salah satu alasan pelayanan belum dapat dilakukan secara merata. DPPKB pun terus berupaya memenuhi kebutuhan tenaga penyuluh melalui perekrutan pendamping lokal.

Selain persoalan jumlah personel, dukungan operasional juga menjadi perhatian. Penyuluh membutuhkan mobilitas tinggi untuk mendatangi masyarakat di berbagai wilayah.

“Mereka itu ujung tombak di lapangan kami untuk memberikan data. Kami berusaha bagaimana mereka memberikan yang terbaik, tetapi kami juga belum memberikan yang pantas untuk mereka,” katanya.

DPPKB berharap dukungan terhadap tenaga penyuluh dapat diperkuat sehingga edukasi KB, pencegahan stunting, serta program pengendalian penduduk dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat desa. Dengan demikian, pelayanan tidak hanya terpusat di wilayah yang mudah dijangkau, tetapi juga hadir di desa-desa yang memiliki akses lebih jauh. (ADV/Kominfo/Kutim)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *