Belian Semega Jadi Roh Wisata Desa Sekerat, Generasi Muda Disiapkan Jadi Penjaga Warisan Leluhur

diadmin
4 Views
4 Min Read

SANGATTA – Di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata, Pemerintah Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, memilih menjadikan budaya sebagai fondasi utama pembangunan. Bagi desa pesisir ini, Belian Semega bukan sekadar ritual adat, melainkan identitas yang membedakan Sekerat dari daerah wisata lainnya.

Kepala Desa Sekerat, Sunandhika, menegaskan bahwa Belian Semega merupakan peninggalan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dijalankan hingga sekarang. Tradisi tersebut memiliki keunikan tersendiri karena menggabungkan unsur dewa, tanah, dan laut dalam satu rangkaian ritual, menjadikannya berbeda dari tradisi belian di wilayah lain.

“Belian Semega adalah warisan nenek moyang yang terus kami jaga. Inilah identitas Desa Sekerat yang ingin kami angkat sebagai kekuatan utama pariwisata,” ujarnya.

Upaya pelestarian itu kini semakin mendapat perhatian. Belian Semega telah melalui tahapan verifikasi sebagai usulan Warisan Budaya Takbenda Indonesia dan telah dipresentasikan di hadapan perwakilan dari 38 provinsi. Pemerintah Desa Sekerat kini tinggal menantikan keputusan pemerintah pusat terkait penetapan tersebut.

Menurut Sunandhika, pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda akan menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi Sekerat sebagai destinasi wisata budaya di Kutai Timur.

Namun, pengakuan saja dinilai belum cukup. Yang lebih penting adalah memastikan tradisi itu tetap hidup di tengah masyarakat. Karena itu, pemerintah desa secara konsisten melibatkan generasi muda dalam setiap pelaksanaan Belian Semega, bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari pelaksana ritual agar mereka memahami filosofi serta nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.

“Tantangan terbesar kami adalah menjaga agar anak-anak muda tetap mencintai budaya sendiri. Mereka harus menjadi penerus yang memahami makna tradisi ini,” katanya.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah desa membentuk berbagai wadah seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), organisasi adat, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui organisasi-organisasi itu, generasi muda didorong ikut terlibat dalam pengembangan sektor wisata sekaligus pelestarian budaya.

Di sisi lain, Desa Sekerat juga mulai menyusun konsep penyajian Belian Semega agar lebih mudah dipahami wisatawan tanpa menghilangkan nilai sakralnya. Setiap prosesi yang berlangsung selama tujuh malam akan diperkuat dengan narasi budaya, penataan kostum, serta penyampaian cerita yang lebih komunikatif sehingga pengunjung dapat memahami makna di balik setiap ritual.

“Kami ingin wisatawan menikmati budayanya, memahami ceritanya, tetapi kesakralannya tetap terjaga. Itu prinsip yang tidak bisa kami tinggalkan,” tegas Sunandhika.

Baginya, pembangunan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan panorama alam. Pantai yang indah memang menjadi modal besar, tetapi budaya adalah nilai tambah yang mampu menciptakan karakter sebuah destinasi.

Ia mencontohkan Bali yang dikenal dunia bukan hanya karena pantainya, tetapi juga karena masyarakatnya berhasil menjaga tradisi dan budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Pantai bisa ditemukan di banyak tempat. Yang membuat orang datang dan kembali adalah identitas budayanya. Itulah yang ingin kami bangun melalui Belian Semega,” jelasnya.

Selain mengembangkan wisata budaya, Pemerintah Desa Sekerat juga terus memperluas pilihan destinasi, mulai dari wisata paralayang, air terjun, wisata persawahan hingga peningkatan fasilitas penunjang. Warga kini telah menyediakan sejumlah penginapan di kawasan pantai, sementara bangunan bekas sekolah dasar yang sudah tidak digunakan direncanakan dialihfungsikan menjadi homestay untuk menambah kapasitas akomodasi wisatawan.

Dalam setiap penyelenggaraan Festival Sekerat Nusantara, Belian Semega selalu menjadi puncak acara. Salah satu prosesi penting di dalamnya adalah ritual Mengulur Naga, yakni tradisi mengantarkan simbol penolak bala ke laut sebagai doa bersama agar kampung dijauhkan dari marabahaya serta diberi keselamatan dan keberkahan.

Bagi Pemerintah Desa Sekerat, menjaga Belian Semega berarti menjaga jati diri desa. Tradisi itu tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga investasi jangka panjang dalam membangun pariwisata berbasis kearifan lokal yang mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus mempertahankan nilai-nilai leluhur bagi generasi mendatang.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *