Nyepi 1948 Saka, PHDI Kutim Angkat Tema “Vasudaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga”

diadmin
7 Views
3 Min Read

SANGATTA – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kabupaten Kutai Timur mengusung tema nasional “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga”. Tema ini menjadi pengingat kuat akan pentingnya persatuan dan keharmonisan di tengah keberagaman.

Ketua PHDI Kutai Timur, I Gusti Bagus Oka, pada wawancara Rabu 18 Maret 2026 mengatakan bahwa tema tersebut diangkat secara serentak oleh umat Hindu di seluruh Indonesia sebagai bentuk kebersamaan dalam memaknai Nyepi.

“Pesannya sederhana tapi mendalam, bahwa kita semua hidup dalam satu bumi dan merupakan satu keluarga besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rangkaian perayaan Nyepi di Kutai Timur telah dimulai sejak pelaksanaan upacara Melasti yang digelar di berbagai wilayah, seperti Sangatta Utara, Kombeng, Kaubun, Kaliorang, Long Mesangat, hingga Rantau Pulung.

“Seluruh rangkaian Melasti sudah terlaksana dengan baik di masing-masing wilayah,” jelasnya.

Memasuki tahapan berikutnya, umat Hindu melaksanakan Tawur Agung Kesanga yang dirangkaikan dengan pengerupukan serta pawai ogoh-ogoh. Tradisi ini tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga memiliki nilai filosofis yang kuat.

“Ogoh-ogoh itu simbol dari sifat-sifat buruk atau energi negatif. Lewat prosesi ini, kita ingin ‘membersihkan’ diri sebelum memasuki tahun baru,” terangnya.

Menurutnya, ogoh-ogoh tahun ini juga mengandung pesan yang lebih luas dengan merefleksikan kondisi global saat ini.

“Ada makna tentang ketimpangan dan penindasan, bagaimana yang kuat bisa menekan yang lemah. Itu menjadi refleksi yang kami angkat,” tambahnya.

Data PHDI mencatat, jumlah umat Hindu di Kutai Timur mencapai sekitar 2.515 jiwa, dengan sekitar 216 orang berdomisili di Sangatta.

Di sisi lain, pelaksanaan Nyepi yang beriringan dengan bulan Ramadan menjadi perhatian tersendiri. PHDI mengajak umat Hindu untuk terus menjaga toleransi dan saling menghormati.

“Kami mengimbau umat untuk tetap menjaga suasana kondusif, menghargai saudara-saudara Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak, seperti FKUB dan Kesbangpol, yang telah berperan dalam menjaga kelancaran kegiatan keagamaan.

“Kutai Timur ini sangat beragam, seperti miniatur Indonesia. Karena itu, menjaga kerukunan adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Sebagai komunitas minoritas, lanjutnya, umat Hindu di Kutai Timur tetap berpegang pada nilai-nilai kearifan lokal.

“Kami selalu menjunjung tinggi prinsip di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Harapannya, kegiatan ini juga bisa memperkaya khazanah budaya di daerah,” pungkasnya.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *