
SANGATTA – Keberagaman suku, agama, dan latar belakang masyarakat menjadi bagian dari kehidupan warga Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur. Di tengah keberagaman tersebut, Kepala Desa Swarga Bara Wahyuddin Usman menempatkan kerukunan sebagai salah satu nilai yang terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi Wahyuddin, menjaga keharmonisan tidak cukup hanya melalui imbauan. Pemerintah desa, menurut dia, harus memberikan contoh dengan hadir dan berinteraksi bersama seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
“Saya tidak pernah alergi terhadap salah satu etnis ataupun keyakinan. Kita ini hidup berdampingan, harus harmonis,” kata Wahyuddin.
Sikap tersebut ia terapkan dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika menghadiri kegiatan keagamaan masyarakat. Selama memiliki waktu, Wahyuddin mengaku berupaya memenuhi undangan kegiatan keagamaan, baik yang berlangsung di masjid maupun gereja.
Menurutnya, hubungan baik antarwarga menjadi modal penting karena masyarakat yang tinggal berdekatan merupakan pihak yang paling cepat saling membantu ketika menghadapi persoalan.
“Jangan pernah alergi, jangan pernah membatasi diri terhadap salah satu etnis, golongan ataupun satu keyakinan. Kita diamanahkan berarti harus siap,” ujarnya.
Nilai toleransi tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman Wahyuddin sejak kecil di Sulawesi Selatan. Ia tumbuh di lingkungan masyarakat yang berbeda keyakinan dan terbiasa hidup berdampingan.
Pengalaman itu kemudian menjadi bekal ketika memimpin Swarga Bara yang memiliki masyarakat dengan latar belakang beragam. Bagi Wahyuddin, perbedaan bukan alasan untuk membuat jarak, melainkan ruang untuk membangun kebersamaan.
Ia berharap semangat tersebut terus tumbuh di tengah masyarakat sehingga Swarga Bara tidak hanya berkembang dari sisi pembangunan, tetapi juga memiliki kehidupan sosial yang harmonis dan saling menghargai. (ADV/Kominfo/Kutim)