
SANGATTA – Upaya penanganan stunting di Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), terus diperkuat. Pemerintah desa tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan, tetapi juga mendorong keluarga membawa balita ke Posyandu dan Puskesmas untuk memastikan pertumbuhan serta kondisi kesehatan anak terpantau secara berkala.
Kepala Desa Swarga Bara Wahyuddin Usman mengatakan, meningkatnya jumlah anak yang terdeteksi berisiko stunting tidak selalu dapat dimaknai sebagai kegagalan. Menurutnya, kondisi tersebut justru menunjukkan semakin banyak anak yang berhasil dijangkau dan diperiksa.
“Bagi saya pribadi dan bagi teman-teman dari tim yang ada di lapangan itu bukan kegagalan. Tetapi bagi kami itu adalah prestasi,” ujar Wahyuddin.
Ia menjelaskan, persoalan utama bukan sekadar mengejar angka rendah, melainkan memastikan anak-anak yang berisiko benar-benar terdata sehingga dapat memperoleh intervensi. Sebab, kata dia, apabila masyarakat tidak aktif datang ke Posyandu dan proses pendataan tidak berjalan maksimal, angka yang tercatat bisa terlihat lebih rendah dari kondisi sebenarnya.
“Kalau kita tidak jalan, tidak mendatakan, artinya tidak masuk di sistem. Yang mungkin 100 bisa jadi 50. Itu prestasi jatuhnya,” katanya.
Karena itu, Pemdes Swarga Bara turut mendorong pengalokasian anggaran untuk mendukung penanganan keluarga berisiko stunting. Intervensi tidak berhenti pada pemberian susu atau makanan tambahan, tetapi juga mencakup pemberian multivitamin dan suplemen sesuai kebutuhan.
Langkah tersebut sejalan dengan pentingnya Posyandu sebagai pintu deteksi dini pertumbuhan anak melalui pengukuran antropometri. Hasil pengukuran selanjutnya dapat menjadi dasar untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Bagi Pemdes Swarga Bara, semakin banyak anak yang terpantau berarti semakin besar pula peluang intervensi dilakukan lebih cepat. Upaya itu diharapkan mampu memastikan tidak ada anak yang luput dari perhatian dalam masa tumbuh kembangnya. (ADV/Kominfo/Kutim)