Kecelakaan maut bus tambang picu gelombang protes warga Sangatta

Sepekan setelah peristiwa kecelakaan bus menewaskan warga, spanduk-spanduk protes bermunculan sebagai ekspresi kekecewaan atas lemahnya pengawasan dan penanganan keselamatan jalan.

diadmin
7 Views
3 Min Read
Sejumlah spanduk kecaman aktivitas bus tambang menyusul tewasnya pengendara motor oleh bus karyawan PT Kaltim Prima Coal. Foto: Dokumentasi G20

SANGATTA – Gelombang kritik warga Kutai Timur mencuat menyusul kecelakaan bus perusahaan yang menewaskan seorang warga. Sepekan setelah insiden tersebut, spanduk-spanduk bernada protes mulai bermunculan di sejumlah ruas jalan Kota Sangatta.

Aksi pemasangan spanduk itu penanda keresahan publik terhadap aktivitas bus karyawan perusahaan yang melintas di jalan umum. Warga menyoroti lemahnya pengawasan serta belum adanya langkah tegas dari perusahaan dan pemerintah daerah pascakecelakaan maut tersebut.

Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Kutai Timur, Yogi Oktanis, menilai kemunculan spanduk merupakan ekspresi kekecewaan sekaligus kecemasan warga.

“Kami tidak perlu heran dengan spanduk-spanduk itu. Itu bentuk protes dan kegelisahan masyarakat Sangatta atas kondisi yang mereka hadapi sehari-hari,” ujar Yogi, Senin, 2 Februari 2026 di Sangatta.

Menurut Yogi, keberadaan bus karyawan perusahaan yang menggunakan jalan raya perkotaan telah lama dikeluhkan warga. Selain memicu kemacetan, bus-bus tersebut kerap terlibat kecelakaan lalu lintas. Ia menilai hingga kini belum terlihat respons konkret dari pemerintah daerah untuk memastikan keselamatan pengguna jalan. Pembiaran itu, kata dia, justru membuka peluang terulangnya tragedi serupa.

Senada disampaikan Sekretaris Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kutai Timur, Zambohari. Ia menyoroti lemahnya pengawasan terhadap operasional bus karyawan di jalan umum. “Mereka tertib di dalam kawasan tambang, tapi di jalan raya sering kali ugal-ugalan,” ujarnya.

Zambohari menilai aksi pemasangan spanduk menjadi peringatan penting bagi pemerintah agar segera mengambil langkah pengaturan yang lebih ketat demi keselamatan publik. Ia menyebut ruas Jalan Yos Sudarso, Sangatta Utara, sebagai salah satu titik yang kerap dipadati bus karyawan pada jam sibuk pagi dan sore hari.

Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kutai Timur, Deo Datus Kacaribu, menegaskan keselamatan di jalan umum tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.

“Jangan karena sudah terbiasa, pemerintah menutup mata dan perusahaan lepas tanggung jawab. keselamatan semua orang dipertaruhkan,” kata dia seraya menekankan keselamatan lalu lintas yang melibatkan kendaraan operasional perusahaan merupakan ancaman bagi seluruh warga.

Kecaman serupa datang dari kalangan pemuda. Kelompok Gerakan 20 Mei Kutai Timur atau G20 turut mengkritisi aktivitas bus yang melayani tambang PT Kaltim Prima Coal di jalanan umum.

Koordinator G20 Mei Kutim, Erwin Febrian Syuhada, menyebut rangkaian kecelakaan maut di ruas utama Sangatta bukan lagi sekadar musibah, melainkan alarm atas kelalaian sistemik. “Jalan umum yang seharusnya aman bagi warga justru berubah menjadi jalur industri dengan risiko tinggi. Ini tidak bisa terus ditoleransi,” ujarnya.

Ia menyoroti fakta bahwa korban kecelakaan berasal dari kelompok rentan, termasuk anak-anak dan masyarakat umum. Menurutnya, hal itu menunjukkan keselamatan publik belum menjadi prioritas utama. Ia juga menegaskan, aksi warga melalui spanduk tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari rentetan peristiwa tanpa perubahan kebijakan yang berarti.

“Jika tidak segera ditanggapi dengan langkah nyata, maka ini sama saja membiarkan potensi korban berikutnya,” katanya. (*)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *