Dari Rasa Takut ke Langkah Tegap

diadmin
12 Views
4 Min Read

SANGATTA — Pagi itu, halaman Kantor Bupati Kutai Timur dipenuhi warna merah dan putih. Di antara barisan peserta upacara, Harnawati berdiri tegap dengan Sang Merah Putih di tangannya.

Tatapannya lurus, langkahnya terukur, seolah tidak ada keraguan yang tersisa dari gadis yang beberapa waktu sebelumnya justru sempat merasa takut ketika mengetahui dirinya dipercaya menjadi pembawa bendera pada upacara detik-detik Proklamasi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Di hadapan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, jajaran Forkopimda, ASN, pelajar dan masyarakat yang mengikuti upacara, Harnawati menjalankan tugasnya hingga selesai. Tidak ada rasa takut yang tampak pada wajahnya. Aba-aba diikuti, langkah dijaga, dan bendera dibawa dengan penuh konsentrasi. Pagi itu, seorang siswi SMK Negeri 1 Kombeng sedang menyelesaikan tugas yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Harnawati, yang akrab disapa Harna, lahir pada 2009. Ia merupakan putri pasangan Bongga Palulun dan Dinawati. Sebelum sampai di halaman kantor bupati, ia harus melewati rangkaian latihan yang mengubah banyak hal dalam dirinya. Paskibraka bukan hanya soal berdiri tegak atau berjalan mengikuti irama, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjaga konsentrasi ketika tubuh mulai lelah, mengikuti aturan ketika tekanan meningkat, serta tetap percaya pada rekan satu pasukan.

Ketika pertama kali mengetahui dirinya mendapat kepercayaan membawa bendera, rasa takut sempat muncul. Ia tidak menyangka akan mendapat tugas tersebut, apalagi harus menjalankannya di hadapan pejabat daerah dan masyarakat. Namun rasa takut itu tidak dibiarkan tumbuh menjadi keraguan. Latihan demi latihan membuatnya mulai memahami bahwa kepercayaan selalu datang bersama tanggung jawab.

“Awalnya ada rasa takut dan saya juga tidak menyangka akan dipilih. Selama latihan, kami tidak hanya dilatih secara fisik, tetapi juga ditempa secara mental. Ada disiplin, tekanan latihan, kekompakan dan tanggung jawab,” ujar Harna.

Barangkali di situlah bagian paling penting dari latihan itu. Tubuh memang dilatih untuk mengikuti gerakan, tetapi pikiran juga dipaksa belajar tetap tenang. Ada saat ketika lelah datang dan keinginan untuk menyerah muncul. Ada pula latihan yang harus diulang agar gerakan menjadi tepat. Dari keadaan seperti itu, Harnawati mulai menemukan sesuatu yang sebelumnya belum ia miliki: keyakinan bahwa dirinya mampu.

“Dari proses itu kami belajar tetap tenang, percaya diri dan tidak mudah menyerah. Mungkin proses itulah yang akhirnya membuat saya siap menjalankan tugas ini,” katanya.

Pada hari upacara, Sang Merah Putih yang berada di tangannya membawa makna yang lebih besar daripada tugas seorang pelajar. Bagi Harnawati, bendera itu adalah simbol perjuangan bangsa dan penghormatan kepada mereka yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Ia pun melihat bahwa perjuangan generasi muda sekarang tidak lagi berlangsung di medan perang. Bentuknya berubah menjadi belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga disiplin, mengejar prestasi dan memberi manfaat bagi lingkungan.

Karena itu, pengalaman sebagai Paskibraka bagi Harnawati bukan berhenti ketika upacara selesai. Ia membawa pulang pelajaran tentang bagaimana menghadapi rasa takut. Menurutnya, keberanian bukan keadaan ketika seseorang sama sekali tidak takut, melainkan kemampuan untuk tetap berjalan ketika rasa takut itu masih ada.

“Untuk generasi muda, terus berjuang dan berusaha. Jangan mudah menyerah. Kalau ada kesempatan, jangan takut untuk mencoba. Jalani dengan sungguh-sungguh dan berikan yang terbaik,” pesannya.

Beberapa menit setelah upacara berakhir, halaman kantor bupati kembali menjadi tempat biasa. Barisan dibubarkan dan para peserta meninggalkan lapangan. Namun bagi Harnawati, pagi itu mungkin akan tinggal lebih lama.

Ia datang dengan rasa takut, lalu pulang membawa pengalaman.

Dari Kombeng ke halaman Kantor Bupati Kutai Timur, ia belajar bahwa keberanian tidak selalu hadir sebelum seseorang melangkah. Kadang, keberanian justru tumbuh ketika seseorang menerima tanggung jawab, menjalani proses, lalu menemukan bahwa dirinya ternyata mampu.
 

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *