BPBD Kutim perkuat mitigasi dengan sistem peringatan dini berbasis WRS

Warning Receiver System mulai dioperasikan BPBD Kutai Timur untuk memantau aktivitas gempa dan cuaca ekstrem.

diadmin
10 Views
2 Min Read
Sekretaris BPBD Kutai Timur, Zaenal Abidin. Foto: Deo Kacaribu

SANGATTA – Sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur mulai mengoperasikan Warning Receiver System (WRS) sebagai bagian dari penguatan sistem peringatan dini. Perangkat ini berfungsi menerima informasi gempa bumi dan tsunami secara cepat guna mendukung respons darurat di wilayah Kutai Timur.

Sekretaris BPBD Kutai Timur, Zaenal Abidin, mengatakan kehadiran WRS menjadi langkah penting dalam mitigasi bencana. Menurut dia, tidak semua daerah memiliki akses terhadap teknologi pemantauan tersebut.

“Kutai Timur kini memiliki alat informasi gempa. Dengan WRS, kami dapat memantau aktivitas seismik dan menyampaikan peringatan dini lebih cepat kepada masyarakat,” ujar Zaenal, Selasa, 3 Februari 2026.

Ia menuturkan sistem ini mampu menangkap sinyal getaran secara real time. Begitu terjadi aktivitas gempa, informasi langsung terbaca dan menjadi dasar BPBD untuk menyampaikan peringatan waspada dalam waktu singkat.

Zaenal menambahkan, distribusi WRS di Kalimantan Timur masih terbatas. Di Kutai Timur, hanya terdapat dua unit, salah satunya ditempatkan di kantor BPBD. Perangkat ini diprioritaskan untuk wilayah strategis, termasuk daerah perbatasan, guna memperkuat jaringan pemantauan nasional.

Operator WRS BPBD Kutim, Masykury, menjelaskan sistem pemantauan tidak hanya mencakup gempa bumi, tetapi juga parameter cuaca ekstrem. Data yang dipantau meliputi curah hujan dan kecepatan angin yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.

“Kami memantau 18 kecamatan yang mencakup 140 desa, dua kelurahan, dan desa persiapan. Dari data tersebut, kami dapat memetakan wilayah rawan bencana secara lebih presisi,” kata Masykury.

Untuk memastikan informasi tersampaikan secara akurat, BPBD Kutim membangun rantai komunikasi melalui tim reaksi cepat (TRC) multisektor. Seluruh data kebencanaan yang masuk diteruskan ke TRC di tingkat kecamatan guna mencegah kepanikan akibat informasi yang tidak terverifikasi.

“Masyarakat juga kami imbau memeriksa informasi melalui kanal resmi BPBD agar terhindar dari hoaks,” ujarnya.

Dengan beroperasinya WRS, BPBD Kutai Timur berharap kesiapsiagaan daerah semakin meningkat, sehingga dampak bencana, baik korban jiwa maupun kerugian material, dapat ditekan semaksimal mungkin. (*/DE)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *