Ancaman ISPA dan Diare Intai Korban Selamat Bencana Sumatera

diadmin
65 Views
6 Min Read

Padang – Korban selamat bencana Sumatera menghadapi ancaman gangguan kesehatan setelah diterjang banjir bandang dan tanah longsor akhir November 2025. Penyakit potensial utama yang mengintai adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare, seiring kondisi lingkungan pengungsian yang belum sepenuhnya pulih. Risiko tersebut muncul di tengah keterbatasan sarana kebersihan, kepadatan pengungsian, serta akses layanan kesehatan yang masih dalam tahap pemulihan di sejumlah wilayah terdampak.

Dokter dari Puskesmas Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, Lusiana Yanti, mengatakan bahwa ISPA menjadi penyakit paling banyak dialami korban selamat banjir bandang dan tanah longsor di kawasan Batu Busuak, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh. “Khusus di Batu Busuak, penyakit yang paling banyak terjadi pada penyintas banjir yaitu ISPA,” kata Lusiana di Kota Padang, Selasa (17/12/2025), seperti dikutip Antara.

Ia menjelaskan, sebagian besar penyintas mengalami keluhan pilek, flu, hingga batuk setelah banjir bandang menerjang permukiman warga pada 24 November 2025. “Memang ada beberapa penyakit lain, tetapi ISPA ini yang tertinggi menyerang warga,” ujar Lusiana.

Berdasarkan observasi tim medis, tingginya kasus ISPA di kalangan korban selamat tidak terlepas dari rendahnya penggunaan masker dan kurangnya penerapan kebersihan diri, terutama yang berkaitan dengan tangan, mulut, dan hidung. “Kemarin itu ada pasien di lokasi pengungsian yang batuk dan pilek, tetapi tidak menggunakan masker. Kondisi ini gampang sekali menular kepada pengungsi lain,” ujar Lusiana.

Ia mengatakan sejak awal bencana Sumatera terjadi, tim medis dari Dinas Kesehatan Kota Padang telah melakukan langkah antisipasi, termasuk menyiapkan masker bagi pengungsi, meskipun distribusinya belum merata akibat keterbatasan. “Sekarang itu kita masih fokus pada upaya pencegahan agar penularannya tidak semakin meluas dan mengobati bagi penyintas yang sakit,” ucapnya.

Selain ISPA, tim medis di Posko Bencana Batu Busuak juga melaporkan meningkatnya kasus penyakit kulit, seperti infeksi jamur, yang dialami korban selamat akibat kondisi lingkungan yang masih basah dan lembap pascabanjir bandang. Dinas Kesehatan setempat juga mengantisipasi potensi meningkatnya kasus diare di lokasi pengungsian.

Hal itu berkaca pada pengalaman bencana sebelumnya yang menunjukkan penyakit ini kerap menyerang penyintas. Diare yang umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit dinilai sangat mudah menular melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi, sehingga masyarakat diimbau menjaga kebersihan meski berada dalam keterbatasan.

Lusiana memastikan ketersediaan obat-obatan dan peralatan medis di kawasan Batu Busuak saat ini masih aman dan mencukupi kebutuhan korban selamat.

Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa seluruh rumah sakit yang sempat terdampak bencana Sumatera kini berangsung kembali beroperasi. Pemerintah memastikan layanan kesehatan tetap berjalan guna menjamin keselamatan dan kesehatan masyarakat terdampak. “Pada tanggal 26 November lalu terdapat 41 rumah sakit yang tidak dapat beroperasi akibat bencana. Alhamdulillah, hari ini 100 persen rumah sakit tersebut sudah mulai beroperasi kembali, meski secara bertahap,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Rabu (17/12/2025), seperti dikutip Antara. “Dimulai dari layanan IGD dan ruang operasi,” sebutnya.

Namun, Budi mengakui layanan kesehatan masih menghadapi kendala serius, terutama keterbatasan pasokan listrik yang berdampak pada belum berfungsinya sejumlah layanan medis penting.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan bahwa pemulihan layanan kesehatan pascabencana difokuskan pada keberlanjutan layanan dasar sambil mempercepat perbaikan sarana pendukung. “Sebagian besar rumah sakit sudah mulai melayani pasien, namun memang masih ada kendala listrik dan air bersih,” kata Agus. “Ini yang sedang kami dorong percepatannya agar layanan kritis, seperti hemodialisis dan radiologi, bisa segera beroperasi,” terangnya.

Ia menegaskan koordinasi terus dilakukan dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk penyediaan genset, BBM, serta perbaikan jaringan listrik. “Keselamatan pasien menjadi prioritas utama. Kami pastikan dukungan logistik kesehatan dan teknis terus dilakukan sampai layanan rumah sakit kembali normal sepenuhnya,” lanjutnya.

Berdasarkan Laporan Situasi Penanganan Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat per 15 Desember 2025 pukul 22.00 WIB, sejumlah rumah sakit telah kembali membuka layanan meski masih menghadapi keterbatasan.

Di Aceh Tamiang, RSUD Muda Sedia telah membuka layanan IGD, rawat inap, rawat jalan, serta kamar operasi. Namun, layanan ICU dan hemodialisis belum dapat dijalankan akibat kendala teknis, termasuk instalasi air dan pengecekan alat kesehatan.

RSUD Sultan Abdul Azis Syah Peureulak, Aceh Timur, juga mulai mengoperasikan layanan IGD dan sejumlah poliklinik, tetapi menghadapi kendala ketidakstabilan listrik dan keterbatasan air bersih.

Di Kota Langsa, RSUD Langsa telah mengaktifkan layanan IGD, rawat inap, ICU, NICU, dan ruang bedah. Sementara, layanan hemodialisis dan radiologi belum beroperasi akibat aliran listrik PLN yang terhenti selama enam hari.

Kondisi serupa terjadi di RSUD Zubir Mahmud, Aceh Timur, yang telah menjalankan layanan dasar, seperti IGD, laboratorium klinik, dan rawat inap. Namun, layanan hemodialisis dan radiologi masih terhenti akibat pemadaman listrik PLN selama empat hari.

Selain kendala listrik, keterbatasan air bersih juga menjadi tantangan di sejumlah rumah sakit, sehingga beberapa fasilitas kesehatan terpaksa membeli air bersih demi menjaga kelangsungan layanan dasar.

Di Sumatera Utara, RSUD Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, tetap melayani ribuan pasien rawat jalan menggunakan tenda dan posko darurat. Sementara, proses perbaikan fasilitas utama rumah sakit masih berlangsung pascabencana.

Sumber: https://www.kompas.com/sumatera-barat/read/2025/12/17/170000088/ancaman-ispa-dan-diare-intai-korban-selamat-bencana-sumatera?page=all#page2.
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *