Indonesia Marketing Outlook 2026: Saat Brand Harus Kendalikan Algoritma di Era AI

diadmin
98 Views
5 Min Read

JAKARTA – Di era algoritma dan Artificial Intelligence (AI), komunikasi merek kerap terjebak pada upaya mengejar validasi mesin algoritma, sementara objektif jangka panjang kampanye justru terabaikan. Konten diproduksi cepat, namun identitas brand perlahan terkikis. Yang viral menang, sementara yang relevan terlupakan.

Fenomena ini tergambar dalam Cover Story Indonesia Brandcomm Excellence Majalah MIX MarComm SWA Media Group edisi Desember 2025. Hasil sigi menggunakan Ripple10 Digital Listening Tools dari Ivosights menunjukkan kampanye merek yang berhasil menarik perhatian netizen—dengan engagement rate relatif tinggi—didominasi kampanye bersifat taktikal seperti video consumer promo, tutorial, event recap, dan testimony.

Sebaliknya, hampir tidak ditemukan video commercial berupa kampanye strategik yang bertujuan menyampaikan brand value, memperkuat brand positioning, atau meningkatkan brand equity. Data crawling tersebut dilakukan pada empat industri utama, yakni Personal Care, Telko & ISP, Banking, dan Transportation Services, di platform YouTube dan Instagram sepanjang September 2025.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah brand kini didikte oleh algoritma yang menuntut kecepatan dan kuantitas unggahan? Ataukah justru saatnya brand mengambil kendali dengan menghadirkan video yang lebih kreatif, berkualitas, dan strategis untuk memperkuat positioning serta mengokohkan brand equity?

Isu tersebut menjadi bahasan utama dalam event tahunan INDONESIA MARCOMM OUTLOOK 2026 yang diselenggarakan oleh MIX MarComm dari SWA Media Group pada Kamis, 11 Desember 2025, bertempat di Auditorium & Performance Hall Prof. Dr. Djayusman, LSPR Institute of Communication & Business, Jakarta.

Empat pembicara hadir membawakan pandangan strategis untuk Outlook 2026, yaitu Dr. Ardi Wirdamulia (Presdir Prompt Research), Desniar Budi (Client President WPP Media), Haris Fajar Rahmanto (Indonesia Country Head Illuminate Asia), dan Kristyanto (Chief of Product Ivosights).

Desniar Budi menegaskan bahwa algoritma dan AI kini menjadi tulang punggung pemasaran modern karena memungkinkan personalisasi kampanye dalam skala besar. Namun, ia menekankan bahwa teknologi tersebut tidak menggantikan peran manusia. “Algoritma dan AI bukan menggantikan. Hanya dapat memperkuat. Kreativitas, empati, dan visi strategis Anda tetap menjadi pembeda sejati merek Anda,” tegas Client Director dari agensi multinasional tersebut.

Sementara itu, Dr. Ardi Wirdamulia menyoroti pentingnya integrasi strategis untuk mengatasi fragmentasi kanal komunikasi yang semakin kompleks. “Penting menyelaraskan pesan, media, dan pengukuran ke dalam satu sistem, ide kreatif yang terpadu, serta kerangka KPI yang terintegrasi,” ujar doktor marketing dari Universitas Indonesia ini. Menurutnya, pergeseran dari eksekusi terfragmentasi menuju komunikasi berbasis strategi akan memulihkan konsistensi, efektivitas, dan akuntabilitas brand.

Dari sisi perilaku konsumen, Kristyanto memaparkan hasil temuan terbaru terkait transformasi digital dan perubahan media behaviour di Indonesia. “Konsumen bergerak fleksibel antar-channel—dari social media, website, hingga offline. Brand perlu hadir seamlessly di semua touchpoint,” tuturnya.

Sementara itu, Haris Fajar Rahmanto mengungkap proyeksi consumer confidence yang menunjukkan penguatan pola defensive consumption. “Pola defensive consumption terlihat semakin menguat dibandingkan tahun 2024. Data kami menunjukkan konsumen Indonesia kini jauh lebih agresif dalam memangkas pengeluaran gaya hidup—seperti makan di luar dan hiburan—demi memprioritaskan kebutuhan pokok di tengah kondisi ekonomi saat ini,” ujar Haris.

Bersamaan dengan pemaparan MarComm Outlook 2026, Majalah MIX MarComm juga menggelar program tahunan “Indonesia Brand Communication Excellence 2025”, yang tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima. Program ini bertujuan menunjukkan kepada investor bahwa brand yang mereka dukung dikelola secara profesional oleh para brand guardian. Rekognisi dibagi ke dalam lima kategori, yaitu Integrated Brand Campaign, Video Commercial, Brand Activation, Visual Branding, dan Brand Guardian Team.

“Rekognisi ini melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan brand, mulai dari brand owner, brand itu sendiri, agensi, hingga brand guardian di balik kesuksesan merek,” ujar Lis Hendriani, Pemimpin Redaksi Majalah MIX MarComm. Lis menjelaskan, terdapat tiga metode penilaian dalam ajang ini. Pertama, penjurian berbasis submission dan wawancara Zoom untuk kategori Integrated Brand Campaign, Brand Activation, dan Brand Guardian Team. Kedua, metode data crawling menggunakan Ripple10 Digital Listening Tools untuk menyeleksi Video Commercial dengan engagement tertinggi. Ketiga, metode semiotika oleh Tim Illuminate Asia untuk kategori Visual Branding—yang baru diterapkan tahun ini.

Dewan juri Indonesia Brand Communication Excellence 2025 terdiri dari para pakar komunikasi merek lintas disiplin, mulai dari praktisi periklanan, brand strategist, hingga akademisi komunikasi.

Sumber: https://jakarta.suaramerdeka.com/ekonomi/13416418812/indonesia-marketing-outlook-2026-saat-brand-harus-kendalikan-algoritma-di-era-ai?page=2
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *