Yogyakarta – Tepat satu tahun lebih, Nurul Indarti dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Siapa sangka, perempuan yang menjabat sebagai Ketua Departemen Manajemen FEB UGM ini punya lika-liku kuliah yang menarik. Nurul sejak dulu mengenyam pendidikan di Yogyakarta.
Pada Februari 2024 ia dikukuhkan menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) pada Selasa (27/8/2024) di Balai Senat UGM. Dengan gelar lengkap, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D., ia resmi menjadi guru besar perempuan pertama dalam bidang manajemen di UGM. Termasuk menjadi menjadi perempuan pertama yang meraih gelar profesor di bidang manajemen.
Tapi siapa sangka, Nuril dulu punya IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) di bawah 3,00 saat kuliah. Bagaimana bisa?
Perempuan kelahiran Yogyakarta ini bercerita, dulu dia adalah siswa jurusan IPA di SMAN 8 Yogyakarta. Karena merasa dari jurusan IPA saat SMA, ia mengira kuliah di bidang IPS dapat ia lalui. Ternyata, pemikirannya itu tidak sepenuhnya benar. Terbukti di semester 1, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Nurul saat itu 2,97 saja.
“Saya menggampangkan perkuliahan karena dulu dari jurusan IPA. Waktu itu, Kartu Hasil Studi (KHS) dikirim ke rumah dan Bapak bertutur mau jadi apa kamu kalau IPK tidak sampai 3,” ungkapnya, dilansir dari laman UGM pada Selasa, (16/12/2025).
Dulu saat semester awal kuliah ia aktif sebagai aktivis dan mengikuti kegiatan kepemudaan Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang diikutinya sejak di bangku SMA. Bahkan, ia banyak mengikuti kegiatan hingga pagi buta dan menyepelekan kuliah.
“Saya pun mundur dari kegiatan IPM dan mulai serius kuliah dan akhirnya hasilnya pun bisa bagus. Pesannya memang kita harus menghargai ilmu, tidak boleh arogan pada ilmu,” kata dia.
Saat kuliah ia juga aktif mengikuti berbagai organisasi di kampus yang dapat mendukung studinya dan juga menjadi asisten dosen.
Nurul masuk S1 Fakultas Ekonomi UGM di tahun 1994 lalu lulus tahun 1998 dengan predikat cumlaude. Setelah lulus Nurul mendaftar menjadi dosen di FEB UGM dan ia pun diterima mengabdi di almamaternya sejak Desember 1998 silam.
Lalu, ia melanjutkan studi S2 di School of Management, University of Adger, Kristiansand, Norwegia dan meraih gelar Master of Business Administration (Sivilokonom) pada 2002.
Ia juga mendapat gelar Master of Science in Strategic and Operations Management (Candidata Mercatoria) di Norwegian School of Economics and Business Administration, Bergen, Norwegia pada 2003. Berikutnya, tahun 2010 Nurul berhasil meraih gelar Doktor (Ph.D) dalam bidang Knowledge Management and Innovation dari Faculty of Economics and Business, University of Groningen, The Netherlands.
Wanita kelahiran Yogyakarta pada tahun 1976 ini bercerita kalau meraih titel guru besar bisa dibilang tidak mudah. Ia mengajukan usulan guru besar pada tahun 2017 namun belum lolos di tingkat universitas. Ia pun kembali mengajukan usulan guru besar di tahun 2019 dan akhirnya pada tahun 2020 secara resmi Nurul mendapatkan SK guru besar.
“Guru besar itu bukan tujuan, tetapi konsekuensi dari menjalankan tanggungjawab dengan baik sebagai dosen yang diikat oleh tridharma yang core-nya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Ketika kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dijalankan dengan baik maka yang lain akan mengikuti, termasuk jabatan guru besar,” kata dia.
Pada saat pengukuhan sebagai guru besar, ia berkomitmen untuk terus memproduksi pengetahuan melalui penelitian, menyebarkan hasilnya melalui beragam kanal publikasi dan pengajaran, serta mengaplikasikannya dalam aktivitas pengabdian kepada masyarakat di berbagai konteks.
“Setiap pencapaian dalam hidup, termasuk jabatan akademik profesor, tidak pernah bersifat personal semata. Dalam prosesnya, banyak pihak yang berkontribusi dan melapangkan jalan, semua itu atas kehendak Allah Yang Maha Melapangkan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah,” ungkapnya, saat di Balai Senat UGM.
Nurul dikenal sebagai dosen UGM yang fokus melakukan kajian soal kewirausahaan termasuk dari kelompok marjinal seperti perempuan dan penyandang disabilitas. Seperti pidatonya saat pengukuhannya sebagai guru besar, judulnya Melihat Kewirausahaan dari Pinggiran: Perspektif Etnis, Perempuan, dan Sosial.
Melalui pidatonya, Nurul mengajak para akademisi untuk melihat kewirausahaan dari kacamata yang jarang digunakan yaitu kewirausahaan etnis, kewirausahaan perempuan, dan kewirausahaan sosial. Ketiga topik tersebut ia bingkai menjadi perspektif pinggiran karena bukan menjadi arus utama yang mendominasi diskusi dalam kajian kewirausahaan.
“Kewirausahaan etnis, perempuan, dan sosial sering kali dipinggirkan atau termarginalisasi karena berbagai faktor struktural dan kultural. Mereka menghadapi berbagai hambatan yang membatasi akses mereka terhadap peluang dan sumber daya yang dinikmati oleh kelompok mayoritas,” urainya.
Wirausaha termarginalisasi, kata dia, mencakup minoritas etnis, perempuan, individu dari latar belakang sosial ekonomi rendah, serta individu dengan disabilitas sering menghadapi bias dan prasangka yang dapat membatasi peluang mereka. Misalnya, perempuan wirausaha mungkin berjuang dengan bias gender yang menghalangi akses mereka ke jejaring bisnis dan peluang mendapatkan mentor.
Demikian pula, wirausaha minoritas etnis berpeluang menghadapi tantangan dalam berintegrasi ke dalam pasar utama karena hambatan budaya dan bahasa serta praktik diskriminatif yang membatasi peluang bisnis mereka.
Kata Nurul, kewirausahaan yang termarginalisasi bukan hanya tentang penciptaan usaha baru tetapi juga tentang pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi kelompok-kelompok yang kurang terwakili. Jadi jika sudah memahami tantangan dan hambatan yang dihadapi oleh wirausaha termarginalisasi, ke depan dapat dikembangkan strategi yang lebih inklusif untuk mendukung dan mendorong partisipasi mereka dalam ekosistem kewirausahaan.
“Dalam literatur kewirausahaan perlu juga mempertimbangkan konteks perilaku kewirausahaan seperti lingkungan, budaya, dan sebagainya. Perubahan fokus ini penting dilakukan karena mengkaji kewirausahaan etnis, perempuan, dan sosial dalam konteksnya membantu memperkaya pemahaman kita tentang kewirausahaan secara keseluruhan,” terangnya yang giat mendorong dan memperjuangkan kebijakan yang ramah bagi kelompok marginal dalam berwirausaha.
Nurul telah mengembangkan kurikulum kewirausahaan menjadi kurikulum wajib bagi mahasiswa program sarjana prodi manajemen pada tahun 2004 silam. Sementara di Magister Manajemen UGM, ia mengembangkan konsentrasi kewirausahaan pada 2011. Ia juga menginisasi kurikulum keberlanjutan pada program Master in Sustainability Development and Management (MASUDEM) MM FEB UGM.
Nurul mengatakan bahwa dengan mengemban jabatan sebagai guru besar, tanggung jawab untuk berkontribusi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat semakin besar pula. Sehingga seorang guru besar harus bisa menjadi teladan bagi mahasiswa dan memiliki nilai bagi dunia akademik.
Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2025/12/16/190100071/kisah-nurul-dulu-kuliah-s1-dapat-ipk-2-97-kini-jadi-guru-besar-ugm?page=all#page2