Canberra – Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, berencana untuk mengusulkan penguatan undang-undang kepemilikan senjata api setelah terjadinya penembakan massal di Pantai Bondi. Pemerintah New South Wales (NSW) bahkan mempertimbangkan untuk memanggil kembali parlemen sebelum Natal guna mengesahkan regulasi darurat, sebagaimana dilaporkan oleh Sydney Morning Herald pada Senin (15/12/2025).
Inisiatif ini muncul setelah seorang pria tua dan putranya diduga menyerang pengunjung pantai yang merayakan hari pertama Hanukkah. Keduanya menggunakan enam senjata api yang tercatat dimiliki secara legal. Sajid Akram, ayah dari pelaku, sebelumnya dinyatakan “layak dan pantas” untuk memegang izin senjata api sekitar sepuluh tahun lalu.
Bersama putranya, Naveed Akram, ia diduga membawa senjata-senjata tersebut ke jembatan penyeberangan di Pantai Bondi sebelum melakukan serangan yang oleh otoritas disebut sebagai aksi teror bermotif antisemitisme.
Beberapa korban telah teridentifikasi, termasuk seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun bernama Matilda, seorang rabi dan ayah dari lima anak, Eli Schlanger, serta seorang warga negara Prancis, Dan Elkayam.
Albanese menyatakan bahwa perubahan kebijakan akan dibahas dalam rapat kabinet nasional. Ia menekankan bahwa izin kepemilikan senjata tidak seharusnya dianggap sebagai hak seumur hidup.
“Kondisi seseorang bisa berubah. Proses radikalisasi dapat terjadi dalam jangka waktu tertentu. Izin senjata api tidak seharusnya berlaku selamanya, dan harus ada pengawasan serta mekanisme pengendalian yang kuat,” ungkap Albanese.
Perdana Menteri NSW, Chris Minns, juga menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk memanggil kembali parlemen guna mereformasi undang-undang senjata api dan memperketat persyaratan kepemilikan. Ia berpendapat bahwa senjata api tidak memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan masyarakat sipil.
“Pemberian izin kepemilikan senjata api tanpa batas waktu jelas tidak lagi sesuai dengan tujuan keselamatan publik,” tegas Minns.
Dalam insiden yang terjadi, pelaku yang lebih tua meninggal di tempat setelah terlibat baku tembak dengan pihak kepolisian. Saat ini, Naveed Akram masih mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit di bawah pengawasan ketat aparat.
Sedikitnya 40 orang dilaporkan mengalami luka akibat kejadian tersebut. Komisaris Polisi NSW, Mal Lanyon, menyatakan bahwa serangan ini merupakan tindakan yang disengaja dan secara khusus menargetkan komunitas Yahudi. Meskipun Naveed Akram sudah dikenal oleh pihak kepolisian, mereka mengaku tidak memiliki indikasi sebelumnya bahwa serangan ini telah direncanakan.
Tragedi ini menimbulkan reaksi yang luas, termasuk dari Walter Mikac, yang kehilangan istri dan dua putrinya dalam pembantaian Port Arthur pada tahun 1996. Ia menyampaikan rasa simpati yang mendalam kepada komunitas Yahudi.
“Ini pengingat yang sangat mengerikan tentang pentingnya kewaspadaan terhadap kebencian dan kekerasan, serta perlunya memastikan undang-undang senjata api kita benar-benar melindungi keselamatan semua warga Australia,” ujarnya.
Gubernur Minns menegaskan bahwa reformasi hukum hampir pasti akan dilakukan setelah penembakan ini. Ia juga menekankan pentingnya sikap nol toleransi terhadap antisemitisme.
“Kita harus mengirimkan pesan yang tegas dan jelas bahwa tidak ada tempat bagi antisemitisme, rasisme, atau kebencian terhadap Yahudi di NSW maupun Australia,” katanya. “Baik dalam bentuk kekerasan, slogan, nyanyian, maupun unggahan daring, semuanya harus dilawan.”
Penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian mengungkap bahwa Akram bekerja sebagai tukang batu dan baru saja kehilangan pekerjaannya. Sebelum menghilang, ia sempat memberitahukan keluarganya bahwa ia berencana pergi memancing pada akhir pekan.
Polisi kemudian mengepung rumah keluarga Akram di Bonnyrigg serta sebuah rumah sewa jangka pendek di Campsie yang menjadi tempat tinggal ayah dan anak tersebut.
Selain itu, aparat kepolisian menemukan sejumlah alat peledak rakitan di sebuah mobil yang terparkir di Campbell Parade, yang terletak sejajar dengan kawasan pantai. Kendaraan tersebut diduga terkait dengan salah satu pelaku yang terlibat dalam insiden ini.
Di tengah suasana duka yang menyelimuti seluruh bangsa, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menerima kritik dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Netanyahu menilai bahwa pemerintah Australia belum menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi antisemitisme.
Albanese tidak memberikan tanggapan langsung terhadap kritik tersebut, tetapi ia menyerukan persatuan nasional.
“Apa yang kita saksikan adalah kejahatan murni, aksi antisemitisme dan terorisme di salah satu lokasi paling ikonik Australia, Pantai Bondi—tempat yang selama ini identik dengan keluarga, perayaan, dan kegembiraan,” ungkap Albanese. Ia menambahkan, “Makna itu kini ternoda oleh tragedi ini.”
Pada hari Senin pagi, Albanese mengunjungi Pantai Bondi untuk meletakkan bunga di Paviliun Bondi dan menyapa petugas di kantor polisi setempat.
Sementara itu, Kepolisian NSW telah mengaktifkan Operasi Shelter dengan menambahkan personel di rumah ibadah dan sekolah-sekolah Yahudi untuk meningkatkan keamanan. Selain itu, tim gabungan kontra-terorisme yang dikenal dengan nama Operasi Arques juga ditugaskan untuk menyelidiki insiden ini.
Polisi memastikan bahwa saat ini tidak ada tersangka lain yang sedang diburu dalam kasus ini.
Sumber: https://www.merdeka.com/dunia/usai-penembakan-pantai-bondi-pm-australia-dorong-pengetatan-undang-undang-senjata-api-508411-mvk.html?page=3