Home Artikel Keanekaragaman Hayati dan Covid-19

Keanekaragaman Hayati dan Covid-19

Artikel Ilmiah Studi Kehutanan

42
0
SHARE
Keanekaragaman Hayati dan Covid-19

Keterangan Gambar : Kaprodi Kehutanan Univ. Muhammadiyah Jambi, Hendra Kurniawan S.SI., M.Si

Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2020 yang diperingati setiap tanggal 5 Juni terasa spesial karena diperingati ditengah pandemi Corona Virus Disease (COVID-19).  Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menetapkan tema besar untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia kali ini yaitu Time for Nature dengan fokus pada keanekaragaman hayati.  UNEP juga menetapkan Kolombia menjadi tuan rumah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dalam kemitraan dengan Jerman.  


Mengapa UNEP menetapkan keanekaragaman hayati sebagai fokus dari tema besar peringatan  tahun ini ditengah global sedang menghadapi pandemi yang menyebabkan banyak korban jiwa?.  Seberapa pentingkah keanekaragaman hayati di tengah situasi pandemi seperti saat ini?.  Apa hubungan keanekaragaman hayati dan Covid-19?.  Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat menarik untuk dicermati dan dibahas.


Keanekaragaman Hayati


Keanekaragaman hayati adalah kekayaan  atau bentuk kehidupan di bumi, baik tumbuhan, hewan, mikroorganisme, genetika yang dikandungnya, maupun ekosistem, serta proses-proses ekologi yang dibangun menjadi lingkungan hidup (Primack et al. 1998 dalam Kuswanda 2009).


Keanekaragaman hayati merupakan hal yang penting bagi kehidupan. Keanekaragaman hayati berperan sebagai indikator dari sistem ekologi dan sarana untuk mengetahui adanya perubahan spesies.  Keanekaragaman hayati juga mencakup kekayaan spesies dan kompleksitas ekosistem sehingga dapat mempengaruhi komunitas organisme, perkembangan dan stabilitas ekosistem (Rahayu 2016).
Keanekaragaman hayati yang tersedia di alam sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai sumber ilmu pengetahuan, sumber bahan pangan, sumber bahan sandang, sumber obat-obatan, sumber papan, sumber pendapatan, sumber bahan kosmetik, sumber budaya, sumber kebutuhan sekunder dan sumber plasma nutfah (genetik).  


Kebutuhan manusia untuk memanfaatkan sumberdaya keanekaragaman hayati membuat manusia mendapatkan ilmu untuk memanfaatkannya secara maksimal.  Keanekaragaman hayati yang berlimpah dan beranekaragam menghasilkan pilihan bahan pangan beragam yang dapat dimanfaatkan manusia.  Banyak serat alami yang tersedia di alam seperti rami, kapas, labu air dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan sandang oleh manusia.  Selain itu, beberapa hewan juga dapat menyumbangkan sumber sandang untuk manusia, antara lain domba yang menghasilkan bulu, sapi menghasilkan kulit, ulat sutra untuk membuat kain sutra dan bulu burung untuk dijadikan hiasan pakaian.  Keanekaragam tumbuhan dan hewan pun sejak lama telah dimanfaatkan manusia menjadi sumber bahan dasar pembuatan obat-obatan tradisional maupun obat-obatan modern.  Untuk kebutuhan pemukiman pun, manusia masih sangat tergantung dengan tersedianya bahan-bahan yang ada dari alam.  Kekayaan alam yang berasal dari keanekaragaman hayati mendatangkan sumber pendapatan bagi masyarakat.  Melimpah ruahnya keanekaragaman hayati menyediakan banyak bahan untuk keperluan kosmetik anatara lain lidah buaya, urang aring, minyak kelapa, madu, berbagai macam bunga dan tanaman penghasil minyak atsiri.  Keanekaragaman hayati berpadu dengan variasi bentang alam dan kondisi geografis menghasilkan keanekaragaman suku dan budaya. Selain itu, keanekargaman hayati tidak hanya memenuhi kebutuhan pokok manusia tapi juga kebutuhan sekunder manusia  seperti kebutuhan liburan dan relaksasi. 

Kenakeragaman hayati menyediakan plasma nutfah yang dapat dipelajari manusia untuk menciptakan varietas unggul yang memiliki produktifitas tinggi.
Kondisi keanekaragaman hayati saat ini sangat memprihatinkan.  John Scott dalam How biodiversity loss is hurting our ability to combat pandemics, melaporkan bahwa dalam 100 tahun terakhir, lebih dari 90 persen varietas tanaman telah menghilang. Kondisi itu telah mengurangi keanekaragaman hayati secara langsung yang terkait dengan berkembangnya wabah atau faktor resiko kesehatan. Antara 1980 sampai 2013 tercatat 12.012 jenis wabah dengan menelan korban 44 juta kasus individu di berbagai negara di dunia.


Aktivitas manusia memunculkan akibat yang signifikan terhadap kondisi alam maupun makhluk hidup di sekitar. Peneliti Mikrobiologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra mengatakan deforestasi (hilangnya hutan akibat kegiatan manusia) untuk pertanian, urbanisasi, industrialisasi merusak keseimbangan ekosistem dan berkontribusi terhadap penyakit infeksi baru atau new emerging infectious disease. 

Laporan ilmiah berjudul “Hilangnya Hutan Dikaitkan dengan Wabah Penyakit Virus Ebola” pada 2017 yang ditulis oleh Jesus Olivero dkk., menyebutkan terdapat implikasi antara wabah virus ebola dengan hilangnya hutan. Kontak antara manusia dan satwa liar yang terinfeksi meningkat setelah terjadi penebangan hutan.

Berdasarkan publikasi Journal of Medical Virology edisi 22 Januari 2020, setelah membandingkan lebih dari 200 jenis virus corona dari berbagai hewan, diketahui bahwa material genetik Novel Corona Virus (2019-nCoV) merupakan rekombinasi dari genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular. Kode protein atau material genetik 2019-nCoV juga memiliki kesamaan dengan material genetik dari ular. 

Sugiyono menjelaskan rekombinasi merupakan gabungan antara bagian selubung virus dari virus corona yang berasal dari dua hewan. Keduanya sama-sama dapat menginfeksi manusia. Selubung virus atau virus spike, kata Sugiyono, merupakan bagian yang akan menempel atau menginfeksi sel inang jika reseptornya sesuai. Mutasi pada bagian ini yang menyebabkan virus corona dari ular dapat menginvasi sel-sel pada saluran pernapasan manusia.

Zoonosis


Penyakit zoonosis merupakan infeksi yang ditularkan hewan ke manusia. Kondisi ini bisa berlanjut pada wabah penyakit berbahaya dan menular. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 75 persen penyakit baru yang ditemukan bersifat zoonotik.
Sementara ahli kebijakan lingkungan yang juga akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Hariadi Kartodiharjo berpendapat, munculnya SARS-CoV-2 ini terjadi karena hilangnya jasa alam berupa keanekaragaman hayati yang mengakibatkan ketidakseimbangan populasi. Terputusnya rantai alam dan rusaknya habitat akibat eksploitasi, mendorong hewan liar mendekati populasi manusia. Dengan begitu bisa meningkatkan kemungkinan virus zoonosi seperti SARS-CoV-2 melakukan lompatan lintas spesies dan manusia sebagai inang.
Adapun Ketua II Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), Drh. Tri Satya Putri Naipospos menyebut, virus corona bukan jenis virus baru, tetapi masih termasuk ke dalam kelompok virus besar. Golongan tersebut terbagi menjadi tiga yakni, animal corona virus atau virus yang menyerang hewan seperti SARS dan MERS, human corona virus yang menyerang manusia seperti influenza, dan virus corona yang bermutasi. Kelompok terakhir diketahui dapat melompat dari hewan ke manusia dan bisa menyebar dari manusia ke manusia.  Kapan melompatnya dan di waktu apa bisa terjadi coronavirus ini menyerang manusia, manusia tidak bisa memprediksi. Di Wuhan, secara genetik dan RNA yang membangun virus ini berbeda dari coronavirus sebelumnya.

Menurut Tata, gaya hidup seperti memakan satwa liar memicu penularan virus. Beberapa suku tertentu juga memiliki kebiasaan mencari dan menangkap hewan di hutan untuk konsumsi. Tata menilai kedekatan manusia dengan satwa liar merupakan penyebab yang memungkinkan virus berpindah dari hewan ke manusia. Untuk menghentikan virus menginvasi kehidupan manusia, caranya dengan tidak mengganggu habitat hidupan liar.  Kalau mau meminimalkan tertular virus corona ini biarkan mereka (satwa) di dalam kehidupannya.
Walaupun ada beberapa pihak yang melihat bahwa merebaknya pandemi Covid-19 ini tidak disebabkan oleh zoonosis, tetapi sebagian besar pakar berkeyakinan bahwa rusaknya alam yang diakibatkan oleh deforestasi dan perdagangan satwa liar telah mengakibatkan peningkatan penyakit zoonosis termasuk covid-19.
Penutup
Melihat keterkaitan yang sangat erat antara rusaknya lingkungan dan terganggunya keanekaragaman hayati dengan merebaknya wabah pandemi covid-19, maka tema yang ditetapkan UNEP pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2020 sangatlah tepat.  Saatnya kita untuk semakin memperhatikan dan menjaga keseimbangan alam (Time for Nature) dan menjaga keanekaragaman hayati tetap hidup dalam keseimbangan agar dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Semoga Pandemi Covid-19 ini bisa menyadarkan kita semua untuk hidup sinergis dengan alam.  Sebagaimana yang telah dinukilkan dalam Kitab Suci Alquran, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS. Ar-rum: 41)